Thursday, February 23, 2012

Hutan Mangrove Potensial Untuk Investasi Karbon

Jakarta (ANTARA) - Pengelolaan hutan mangrove yang berkelanjutan bukan cuma bermanfaat untuk perlindungan kawasan pesisir, tapi juga potensial untuk investasi penyerapan dan penyimpanan karbon.
Menteri Kehutanan Zulkifli Hasan di Jakarta, Kamis, menjelaskan, salah satu keunggulan tanaman mangrove adalah kemampuannya menyerap emisi yang terlepas dari lautan dan udara.
Dengan sistem perakarannya yang dimiliki tanaman ini, katanya saat penanaman di hutan mangrove bersama Garuda Indonesia, mangrove bisa menyerap emisi dari laut maupun udara.
Hadir pada kesempatan tersebut Direktur Garuda Indonesia Emirsyah Satar dan Gubernur DKI Jakarta Fauzie Bowo.
Jumlah bibit mangrove yang ditanam dengan sistem guludan pada acara itu mencapai 18.600 batang. Kegiatan tersebut juga dicatat sebagai penanaman mangrove dengan sistem guludan terbanyak oleh Museum Rekor Indonesia (MURI).
Selain unggul dalam menyerap emisi, kata menteri, mangrove juga punya banyak fungsi di antaranya pencegahan abrasi dan mampu menahan hempasan tsunami.
Selain itu, buah tanaman mangrove juga bisa diolah menjadi tepung untuk berbagai produk makanan.
"Getah tanaman ini juga bisa dimanfaatkan sebagai bahan pewarna batik," katanya.
Karena itu, Menhut meminta masyarakat bisa memanfaatkan kawasan mangrove secara berkelanjutan dan tidak mengonversinya menjadi tambak.
Dia mengingatkan hutan mangrove merupakan wilayah pemijahan bagi berbagai biota laut penting, sehingga keberadaannya harus dijaga. "Dalam jangka panjang konversi mangrove menjadi tambak justru merugikan secara ekologi dan ekonomi," tegas menteri.
Sementara Dirjen Bina Pengelolaan Daerah Aliran Sungai dan Perhutanan Sosial Kemenhut Harry Santoso mengatakan, tanaman mangrove mampu menyerap emisi karbon 10 kali lipat dibandingkan hutan sekunder. Karena kemampuannya itu, hutan mangrove mulai dilirik sebagai lokasi investasi penyerapan dan penyimpanan karbon.
"Sebuah konsorsium di Medan, Sumatera Utara, mulai melakukan penanaman mangrove sebagai sebuah investasi karbon," katanya.
Konsorsium tersebut terdiri dari berbagai perusahaan, termasuk yang bergerak pada jasa keuangan. Mereka menyalurkan kepada pelaksana pengelolaan mangrove yaitu Yayasan Gajah Sumatera.
"Dana tersebut bukan dana tanggung jawab sosial perusahaan (CSR), tapi investasi untuk perdagangan karbon," kata Harry.
Meski demikian, hutan mangrove masih menghadapi tantangan berupa maraknya konversi untuk tambak dan perkotaan. Padahal, pengelolaan tambak yang terintegrasi dengan hutan mengrove lestari justru bisa meningkatkan produksi tambak.
"Tambak sebaiknya dibangun di sela-sela atau di belakang hutan mangrove. Ini akan produktif ketimbang membabat habis hutan mangrove," katanya.
Saat ini, luas hutan mangrove di Indonesia sekitar 3,6 juta hektare dengan sekitar 60 persen di antaranya dalam kondisi kritis atau sangat kritis.
Menurut Direktur Rehabilitasi Hutan dan Lahan Kemenhut Bedjo Santoso, berbagai upaya tengah dilakukan untuk merehabilitasi hutan mangrove yang kritis.
"Tahun lalu kami targetkan rehabilitasi mangrove seluas 10.000 hektare dan realisasinya melebihi target. Tahun ini juga kami targetkan rehabilitasi seluas 10.000 hektare," katanya.
Dia menyatakan untuk merehabilitasi mangrove, Kemenhut juga menjalin kerja sama internasional termasuk dengan negara-negara ASEAN.
"Negara ASEAN saling berbagai pengalaman dalam pengelolaan mangrove dan mereplikasi contoh pengelolaan mangrove yang baik," katanya.

Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+
Tags :

Related : Hutan Mangrove Potensial Untuk Investasi Karbon

0 comments:

Post a Comment